Kolam Narkissos Bernama Facebook

2 11 2010

 

Syahdan dalam mitologi Yunani hiduplah seorang pemburu tampan luar biasa bernama Narkissos. Ketampanan telah membuatnya menjadi seorang yang sombong. Dia sering menolak cinta banyak gadis karena merasa mereka tak sepadan dengan dirinya.

Di antara para gadis yang kesengsem pada Narkissos, tersebutlah seorang dewi bernama Ekho. Suatu hari secara diam-diam Ekho mengikuti Narkissos yang sedang berburu di dalam hutan. Di suatu tempat

Narkissos mendengar langkah kaki Ekho dan berteriak, “Siapa itu?”. Ekho menjawab dengan teriakan yang sama, “Siapa itu?”. Begitu seterusnya sampai akhirnya Ekho menampakkan diri dan memeluk sang pujaan hatinya. Narkissos terkaget-kaget dan berusaha melepaskan diri. Dia lalu mengusir Ekho dan meninggalkannya sendirian.

Karena merasa patah hati, Ekho memohon bantuan pada Nemessis, sang dewi pembalas dendam. Nemessis mengabulkan doa Ekho dengan mengutuk Narkissos supaya jatuh cinta kepada dirinya sendiri. Saat Narkissos melihat bayangan dirinya di sebuah kolam, tak henti-hentinya dia mengagumi sosok yang dipantulkan oleh air. Terus menerus seperti itu hingga ajal menjemputnya. Usai kematiannya, Narkissos lalu menjelma menjadi setangkai bunga. Bunga Narsis.

Kisah Narkissos inilah yang melatarbelakangi penggunaan kata “narsisisme” dalam ilmu psikologi modern. Definisi bebas dan singkat dari narsisisme adalah rasa cinta berlebihan terhadap diri sendiri. Manusia yang mengalaminya disebut “narsisis”, tapi orang Indonesia yang amat suka dengan singkatan biasa menyebutnya “narsis” saja. Dalam psikologi modern, mereka digolongkan sebagai pengidap Narcissistic Personality Disorder (NPD).

NPD bukanlah penyakit. Gangguan kejiwaan ini terbentuk dalam diri seseorang oleh lingkungan terdekatnya sejak masih kecil. Orangtua yang terlalu memanjakan anak-anaknya, perfeksionis dan memaksakan nilai-nilai tertentu pada mereka, ditengarai sebagai penyebabnya. Faktor lainnya adalah pelecehan emosional, pujian berlebihan ketika si anak berkelakuan baik dan memaki-maki saat si anak melakukan kesalahan sepele.

Menurut bapak psikologi modern Sigmund Freud, sebetulnya manusia dilahirkan tanpa rasa ego, apalagi narsis. Ego berkembang dalam masa kanak-kanak ketika orangtua atau keluarga terdekatnya mengajarkan nilai-nilai standar yang mereka anut. Mereka berharap anaknya memiliki ideal ego, sebuah citra pribadi yang sempurna.

Para narsis mudah dikenali dari perilakunya. Umumnya mereka bersifat ego-sentris, merasa dirinya paling hebat, paling tampan atau paling cantik. Mereka sering memonopoli pembicaraan, anti kritik dan meyakini bahwa orang lain iri dengan kehebatan mereka.

Mereka tampil perfeksionis di muka umum demi mendapatkan pujian, tapi merasa diri tak berharga saat menyendiri. Itulah sebabnya kenapa mereka sangat menyukai keramaian, baik di ruang-ruang fisik maupun virtual seperti Internet.

Baca entri selengkapnya »

Iklan




Negeri para bedebah

16 11 2009

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor
menjatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau menjadi kuli di negeri orang
Yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedangkan rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila melihat negeri dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi, dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan !

(Adhie M Massardi)





Dialog di sebuah perkebunan karet

16 10 2009

Syahdan di pulau Semanggo, di timur benua Atlantis terdapat area perkebunan karet yang luasnya tak sampai 10 hektar persegi.

Pulau Semanggo dihuni tak lebih 20 buruh penyadap karet serta seorang mandor yang gayanya bikin sengak orang lain yang melihatnya.

Mandor ini dulu juga sebenarnya adalah supervisor buat para penyadap karet, karena sesuatu dan lain hal, maka mandor lama mengundurkan diri. Nah, mandor baru ini yang menggantikannya. Namanya mandor Gadang.

Pada suatu siang saat para buruh karet makan siang ala kadarnya, sang  mandor yang tampak jumawa mendatangi mereka dan terjadi percakapan sebagai berikut:

Mandor: Semua buruh kumpul disini, ada warta bahwa perusahaan berkenan memberi kita insentif buat dua bulan. Buat yang loyal dan dekat dengan aku, maka insentif 5 cent sebulannya,  jadi 10 cent buat dua bulan.

Buruh : Bagaimana ukuran loyal dan enggak loyal itu bang mandor?

Mandor : Seseorang yang dikatakan loyal adalah yang selalu dekat dengan aku, terutama mereka-mereka yang sudah punya hubungan kerja dengan aku di tempat sebelumnya. Aku akan tutup mata terhadap pencapaian mereka di perkebunan ini. Jelek-baik adalah mereka bawaan aku.

Buruh : Nggak bisa begitu dong bang mandor, meski saya bukan bawaan bang mandor tapi saya udah lama mengabdi disini bertahun-tahun. Masak kami cuma diberi 3 cent.

Mandor : Ah… persetan dengan alasan kalian. Itu adalah keputusan aku. Aku yang mengambil kebijakan dan keputusan. Kalian terima saja dan tutup mulut. Dan perlu diingat, kalian bukan dari “bagian kami”, sehingga kalian patut kami nomorduakan.

Buruh : Jangan begitu dong bang mandor, kami ini bekerja lebih baik dari bawaan bang mandor, kami datang lebih awal dan langsung bekerja. Beda dengan bawaan bang mandor yang datang siang dan boleh pilih-pilih jadwal sesukanya. Belum lagi punya kegemaran ngobrol ngalor-ngidul  kayak siaran infotainment.

Mandor : Walau kerja kami seperti yang engkau sebutkan tadi tapi kami punya hubungan batin yang kuat. Malah sangat kuat, sehingga siapapun yang tidak sejalan dan sepakat dengan kami, maka orang-orang tersebut akan kami singkirkan.

Buruh : Tapi kan semua kami semua hanya pekerja penyadap karet, cuma bang mandor yang menjadi penguasa disini. Meskinya insentif itu juga diberikan sama rata. Kalaupun mau buat hitung-hitungan, bang mandor bisa dicek hasil kerja mereka. Siapa yang lebih banyak menyadap karet di kelompok ini. Siapa yang cuma pandai berlagak saja.

Mandor : Sudah-sudah… saya nggak mau debat kusir sama kalian. Harusnya kalian bersyukur diberi insentif. Apa mau saya tarik kembali uang itu?

Buruh : Ya… bukan begitu bang mandor… Masak ada penyadap bau kencur juga dibayar lebih tinggi dari kami. Gimana itung-itungannya bang mandor? Bang mandor harusnya adil, jangan ada diskriminasi seperti itu. Wong semua sama-sama kerja, dan tugas kami adalah penyadap karet, bukan peragawan atau peragawati yang kerjanya mondar-mandir nggak karuan.

Mandor : Ssstttt… sudah jangan berisik. Perlu kalian ingat, saya memang menerapkan sistem like and dislike bukan punish and reward, jadi saya sengaja memberikan insentif dengan cara itung-itungan yang ngawur. Karena pada prinsipnya kalian bukan bagian dari kami.   Sudah.. saya mau keliling dulu. (*)





Orang-orang aneh itu…

12 10 2009

Orang-orang aneh itu
Ada di sekeliling mereka
Ada di sekeliling kita
Bahkan ada saat kita tak ada

Orang-orang aneh itu
Yang kita tak tahu jenisnya
Yang kita tak tahu apa maunya
Hanya nyata ketika mereka tertawa

Ada orang aneh yang tak paham
dimana mereka berada
Cuma layak jumawa di kelas sudra
Laksana katak dalam tempurung kelapa

Orang-orang aneh itu hilir mudik
Mencari kesaksian diri
Menggapai moksa yang dipaksa
Jati diri dicampakkan di ujung pena

Hasil apa dari mereka yang bernama
Orang-orang aneh itu…
Bersenang dalam ketidakpastian
bergurau lewat canda-ria hampa

Orang-orang aneh itu hanya menunggu
Menunggu kesia-sian seraya berasa
Harapan yang tak berubah dari awal
hingga majal…

 

Oktober 2009





Masih ada orang baik di Jakarta

17 03 2009

Kejadiannya sore kemarin (16/3), saat gue pulang cari sesuap nasi segenggam berlian :).

Menjelang maghrib gue yang pulang dengan motor udah ceritanya udah sampe kampung Bulak, Klender. Mengejutkan tiba-tiba tali kopling motor gue putus.

Gue bingung, kenapa nih tali kopling tau-tau putus, padahal suasana di jalanan udah temaram karena menjelang malam. Yah… jalan satu-satunya mesti didorong nih motor.

Tapi dorong sampe mana? Wong, kejadiannya di Klender, sedang rumah gue di Bekasi. Udah gitu arah pulang jelas nggak ada “kehidupan”. Pasalnya, pararel sama rel kereta. Udah gitu mana mungkin ada bengkel yang masih buka.

Kayaknya daripada mikirin yang kayak gitu, bakalan gue nggak nyampe rumah. Terpaksa dengan sisa tenaga yang ada gue tuntun tuh si kuda besi. Dapat seratus meter gue istirahat sebentar. Jalan lagi. Gue mikir, kalo gue dorong sampe rumah bisa-bisa nyampe jam sembilan malam.

Lagi asyiknya gue ngedorong motor, ujug-ujug ada suara dari belakang yang menegor gue. “Mas motornya kehabisan bensin ya,”? tanyanya.

Gue langsung muterin kepala gue ke belakang. Ternyata ada seorang anak muda berjaket kulit, rambut gondrong, bercelana jins sedengkul yang robek-robek. Dia pake motor dua tak yang bunyinya lumayan manasin kuping. “Enggak nih cuma tali koplingnya putus,” jawab gue sambil kasih tampang sangar juga.

“Di sini nggak ada bengkel yang bang,”?  Kali ini gue yang nanya. “Enggak ada mas, udah pada tutup, ada paling di Buaran,” sahutnya. Di Buaran? Wah bakalan gue ngedorong lebih jauh lagi nih.

“Kalo gitu biar saya dorong aja, udah mas naikin motornya aja,  saya yang ngedorong” pintanya.

Tanpa tanya lagi langsung gue nyemplakin tuh motor sambil dalam hati berpikir, gue bakal dipalak berapa nih ditolong sama anak muda ini.

Baca entri selengkapnya »





Akhir Kisah Republik Jaim

12 03 2009

Sudah dua tahun Republik Jaim berdiri. Sepanjang usia itu pula nasibnya tak beda seperti satu tahun lalu.

Republik yang awalnya diharapkan menjadi mercusuar kebanggaan sang dewa kahyangan, sampai detik ini langkahnya tak tentu arah.

Ada yang salah dengan republik ini?

Jelas, meski tidak bisa disebutkan apa penyebabnya namun republik yang usianya seumur jagung ini jalannya sudah terseok-seok, kalau tidak bisa dikatakan terbentur tembok kokoh.

Friksi tajam antar-top manajer telah melemahkan kekuatan republik ini. Doa yang dipimpin seorang rohaniwan ternama saat berdirinya republik ini juga tak banyak menolong. Sudah tak ada lagi kesatuan dalam kata dan pendapat diantara para pembesar di negeri ini.

Presiden Republik Jaim terlalu pede dengan apa-apa yang telah diperbuatnya. Dia seolah tak butuh orang lain. Kalau kenyataannya begitu, anda salah besar bung presiden. Anda tidak bisa bekerja sendiri walau anda pintar. Anda pasti butuh orang lain. Entah orang-orang yang diatas maupun yang levelnya di bawah anda.

Kembali kita harus berkata jujur bahwa di republik ini tak ada yang dijadikan panutan. Begitu banyak rakyat yang berotak encer disini, namun mereka cukup bangga dengan kepintaran yang sebenarnya relatif. Dan ironisnya mereka cuma –maaf– jago kandang.

Masing-masing penduduknya juga bebas berlagak dan bekerja sesukanya. Di republik ini setiap orang bebas menentukan jam kerja, kapan harus masuk dan pulang kerja. Terserah. Parahnya lagi mereka juga menuntut kelebihan tiap-tiap jam itu.

Sang presiden juga semakin nggak “mengenal” siapa-siapa bawahannya. Di level menengah alias para manajer juga nggak bisa diharapkan, mereka nggak dapat membaurkan rakyat. Terlalu banyak diskriminasi. Dua kelompok di republik ini semakin berasyik-masyuk dengan “kerjaannya”.

Ada yang sibuk mengumbar berita gosip ala sinetron. Ada yang tetap “aman” menerima order kerjaan dari pihak luar, meski dihadapan langsung sang presien. Ada lagi yang tiap harinya mondar-mandir nggak karuan. Waduh… pokoknya cilaka 12.

Presiden yang awalnya menggebu-gebu memimpin republik muda ini, belakangan justru menghadapi dilema. Dia tak berani berargumen frontal dengan rakyat. Banyak laporan terkait kinerja para menteri yang “tong kosong nyaring bunyinya” juga tak diindahkan.

Baca entri selengkapnya »





Mugedigan goes to Citarik

2 03 2009

171_171Judulnya kok terkesan mau nyama-nyamain grup band asal Inggris, Frankie Goes to Hollywood. Jelas beda banget. Yang satu tujuannya mungkin ke Hollywood, sedang satunya lagi cuma sekedar buat gagah-gagahan aja.

Memang sejak munculnya grup Frankie Goes to Hollywood di tahun 80-an, banyak grup band yang memakai kalimat sebagai nama band-nya, misalnya saja Michael Learns to Rock. Atau buat ukuran lokalnya adalah grup asal Bandung, Everybody Loves Irene.

Sengaja gue ngasih judul kayak gitu supaya kesannya rada keren aja. Tapi gue asli nggak ngomongin soal musik, gue cuma mau sedikit cerita soal cara jalan-jalan Mugedian.

Siapa dan apa sih Mugedian itu?

Mugedian adalah sekelompok orang yang tiap harinya bergelut dalam hal isi-mengisi konten berita di sebuah portal milik sebuah BUMN. Nama resminya nya sih divisi Muge. Kepanjangan dari Multimedia Gateway. Nggak nyambungkan?

dscn3680Kata sahabat gue, katanya sih, Muge itu cuma buat memudahkan untuk melafal aja. Tapi akhirnya di luaran, malah banyak yang memelesetkan Muge jadi muke gede atau mulut gede. Alah… whatever you say aja lah.

Akhir pekan lalu ceritanya divisi ini pengen mempererat seluruh personelnya dengan mengadakan outbond. Lokasi dipilih Citarik. Alasannya, disana buat outbond cukup representatif. Ada trekking, camping ground, off-road, paintball juga ada. Dan pastinya rafting alias arung jeram.

Guna memenuhi amanat kepala proyek Muge, maka pada Sabtu kemarin diberangkatkanlah sejumlah 20 jiwa menuju Citarik, Sukabumi.

Acaranya sendiri digelar selama dua hari (Sabtu/Ahad) berlabel “Mugedians Adventure 2009”. Wah tagline nya aja keren banget. Apalagi kalo dapat kucuran dana dari sponsor, bakalan ngalahin event yang diadakan oleh sebuah perusahaan rokok tuh.

Btw, kayaknya kalo gue ceritain bakalan panjang dan pada bosen bacanya, ada baiknya liat aja deh beberapa gambar yang gue tampilin. Dan silakan teman-teman mengira-ngira gimana serunya acara ini. (*)