Menunggu pemecatan Benitez

26 11 2012

Entah apa yang dirasakan Roberto Di Matteo beberapa saat paska kekalahan Chelsea pada laga match day kelima liga Champions saat menghadapi tuan rumah Juventus. Bisa jadi Matteo sudah merasakan bahwa ini adalah akhir karirnya bersama The Blues.

Image

(Foto Reuters//Luke MacGregor)

Namun ia tidak menunjukkan kegalauannya. Gesturnya menyiratkan bahwa pria berkepala plontos ini sudah siap dengan segala risiko yang harus diambilnya. Di akhir laga Matteo masuk ke lapangan sambil mengumbar senyum khasnya seraya menyalami pemainnya.

Kenyataan terburuk akhirnya diterimanya. Sepucuk surat pemecatan yang direstui si empunya klub, Roman Abramovich pada pagi buta, 21 November pekan lalu menyatakan bahwa Roberto Di Matteo segera angkat koper dari Stamford Bridge.
 
Di situs chelseafc.com isi suratnya mewartakan bahwa performa terakhir klub tidak cukup baik, sehingga pemilik klub perlu melakukan perubahan untuk menjaga klub agar dapat bersaing di musim ini. Klub dihadapkan pada tugas sulit dalam babak kualifikasi untuk lolos ke babak knock out liga Champions, serta mempertahankan papan atas liga Primer Inggris dan di tiga kompetisi lainnya. Tujuan kami adalah tetap sekompetitif mungkin dan mempertahankan semua lini.

Cukup singkat, namun intinya adalah Matteo gagal mengangkat performa tim, dan pemecatan pelatih adalah hal yang biasa buat seorang Abrahamopvich, meski banyak suara-suara yang menyesalkan keputusan miliuner asal Rusia itu.

Sang taipan berpendapat bahwa suksesor Andre Villas Boas itu tak cukup mumpuni buat melakoni sisa laga pada dua turnamen akbar itu. Puncaknya adalah Kekalahan telak 0-3 dari Juventus di Olympico Stadion. Sang raja hutan kota London harus tersungkur bertarung melawan kuda Zebra dari kota Turin.

Sang Taipan seorang perfeksionist, ia bisa melakukan apapun buat klub yang dibelinya pada 2003. Ia dapat mengganti manajer dan pemain kapanpun. Dengan dana yang tidak terbatas, Abrahamovich tak segan-segan menggaet pelatih dan pemain yang ia sukai, dan tak sungkan segera memecatnya bila tak sesuai harapannya.

Baca entri selengkapnya »





Kursi Panas Mark Hughes

8 11 2012

Queens Park Rangers (QPR) memasuki Liga Primer Inggris (EPL) musim ini dengan harapan membuncah. Dengan skuad yang dimiliki sekarang, sang manajer yang baru, Mark Hughes, teramat yakin timnya mampu memperbaiki posisi mereka di klasemen setelah beberapa musim bercokol
di divisi satu.

Dengan gelontoran dana melimpah dari pemilik QPR Tony Fernandes, Mark Hughes digadang-gadang bakal mampu meningkatkan performa skuad-nya. Hughes didapuk menjadi manajer menggantikan posisi Neil Warnock yang dipecat karena gagal mengangkat posisi tim yang terus tenggelam di dasar klasemen. Hughes pun bergerak cepat dengan mendatangkan sepuluh 10 pemain anyar dengan nilai mendekati 200 juta pounds. Terbukti, sang manajer berhasil menggaet Julius Cesar, Park Ji Sung, Jose Bosingwa, Bobby Zamora dan beberapa pemain terbaik lainnya.

Bersama sang manajer anyar, tujuh laga sudah dilakoni QPR. Sayang, hasilnya masih jauh panggang dari api alias tidak beda jauh dengan raihan Warnock. Poin yang diperoleh cuma dua dari dua hasil seri dan lima kekalahan. Nasib QPR juga tak membaik dalam perebutan Piala Liga (Carling Cup). Meski sempat mengalahkan klub asal divisi satu Walsall FC dengan skor 3-0, langkahnya lalu terhenti saat takluk di tangan Reading 2-3.

Mendiami posisi paling bawah klasemen sementara EPL ternyata tak membuat Hughes panik. Meski belum pernah sekalipun memungut tiga poinn dari enam laga yang dilakoni klub asal kota London barat ini, Hughes tetap yakin bahwa dirinya masih bisa menyelamatkan The Hoops dari dasar jurang klasemen. Sekedar catatan, QPR musim lalu menutup musim di posisi 17.

Hughes mengatakan kekalahan beruntun jelas membuat pihaknya kecewa, meski sebenarnya mereka pantas mendapatkan hasil positif. Di beberapa pertandingan sebelumnya, kualitas tim ini terlihat begitu bagus. Musim lalu, QPR mengalami masa sulit namun tetap bisa bertahan. “Cidera pemain adalah salah satu kisah kelam ini, namun klub ini harus segera bangkit,” kata pelatih yang musim lalu menukangi Fulham, seperti dikutip skysport.com.

Menghadapi kondisi ini, asisten pelatih QPR Mark Bowen mengaku pihaknya tidak dapat menjelaskan mengapa klubnya mengawali kompetisi musim 2012/13 ini dengan sangat buruk. Sungguh konyol melihat klub dengan kualitas yang kami miliki berada di dasar klasemen, kata Bowen.

Menurut striker Bobby Zamora, para pemain perlu waktu untuk beradaptasi satu sama lain, apalagi di musim ini QPR mendatangkan banyak pemain berkelas dengan nilai transfer lumayan mahal. “Di klub, normalnya Anda mulai beradaptasi dengan pemain baru ketika mereka datang dengan jumlah satu atau dua orang, tapi bukan dengan 12 pemain secara bersamaan,” ujarnya.

Baca entri selengkapnya »





Berharap Tuah Sang Raja

17 01 2011

 

Ada sesuatu yang berbeda di Old Trafford saat Manchester United menjamu Liverpool di babak ketiga Piala FA pekan lalu. Sebuah spanduk hitam besar bertuliskan “King Kenny Returns” menghiasi salah satu sudut stadion berkapasitas 76.000 tempat duduk itu. Suporter Liverpool tak henti-hentinya menyerukan nama sang raja dan menyambut kehadirannya dengan standing applause.

Meski Liverpool kalah 0-1 dan gagal melaju ke babak berikutnya, para liverpudlian masih menggantungkan harapan pada sang legenda. Karena bagi mereka, hanya ada satu nama yang dianggap mampu mengembalikan kejayaan klub ini. Bukan Ian Rush, meski Rush selama karirnya telah menyumbang 346 gol. Bukan pula sang dewa, Robbie Fowler, yang pernah membela The Reds dalam 369 pertandingan dan menorehkan 120 gol. Satu nama itu adalah Kenny Dalglish.

Dalglish dianggap sebagai sosok yang paling mengetahui kondisi “luar-dalam” Liverpool. Keberhasilannya menyabet tiga gelar juara saat melatih klub itu (1985-1991) dinilai mampu mengentaskan Liverpool dari keterpurukan dan ancaman degradasi.

Akhirnya keinginan sebagian besar suporter agar pemilik Liverpool memanggil Dalglish terkabul. Mantan striker The Reds itu ditunjuk untuk menggantikan Roy Hodgson yang dinilai gagal mengangkat prestasi klub berlambang burung liver itu. Liverpudlian menilai Hogdson belum mampu menukangi klub sebesar Liverpool. Hodgson mereka ibaratkan sebagai “seekor ikan kecil yang hidup di kolam besar”.

Hingga separuh musim, Liverpool masih tertahan di posisi 12 klasemen, hanya lima tingkat di atas zona degradasi. Dari 20 pertandingan, mereka hanya tujuh kali menang dan mengalami sembilan kekalahan. Kondisi yang memburuk inilah yang membuat manajemen terpaksa mendepak Hodgson dari kursi kepelatihan akhir pekan lalu.

“Kami menghargai usaha Roy selama enam bulan ini, tapi klub menghendaki dia mundur dari posisinya sebagai pelatih,” kata John W. Henry, pemilik anyar Liverpool, seperti dikutip Liverpoolfc.tv.

Dalglish mengaku dirinya tak ragu untuk kembali menangani The Reds. “Suatu kebanggaan dapat kembali ke Liverpool, semoga lebih baik dengan hasil yang menyenangkan,” katanya pada Skysports.com.

“Bagiku ini merupakan sesuatu yang simpel. Apapun yang dikatakan orang, mereka berhak atas opini mereka, namun akulah yang memutuskan dan aku menginginkan yang terbaik buat diriku dan tim,” tambahnya. “Buatku ini merupakan perjalanan enam bulan ke depan yang fantastis.”

Pengangkatan Kenny juga mendapat dukungan dari Dirk Kuyt. Pemain asal Belanda ini menilai kehadiran Dalglish menggantikan Roy Hodgson mulai membawa dampak positif dalam tim.

“Ada hal besar yang terjadi di sini. Kami kedatangan legenda Liverpool. Dia adalah orang yang sangat berpengalaman dan dapat membawa dampak positif pada tim ini,” kata Kuyt seperti dilansir FIFA.com.

Baginya, kehadiran King Kenny dapat membawa dampak berarti dari segi mental para pemain. “Kenny adalah seorang legenda dan orang yang sangat penting bagi klub ini. Saya pikir itu akan banyak mengubah semuanya termasuk mengembalikan kami ke posisi yang tepat,” lanjutnya.
Baca entri selengkapnya »





El Clasico, Akibat Ulah Jenderal Franco

19 11 2010

Setelah beberapa kali bersitegang soal waktu yang tepat untuk menggelar “El Clasico”, akhirnya otoritas Liga Spanyol menetapkan duel Real Madrid vs Barcelona itu bakal dilaksanakan pada hari Senin (29/11) waktu setempat di Nou Camp.

Sebelumnya, Barca menolak laga digelar Sabtu atau Minggu mengingat pada saat yang sama di kota itu akan digelar pemilihan Walikota Catalan.

Meski pertandingan yang sarat gengsi itu masih dua pekan mendatang, namun genderang “perang” antar dua kesebelasan sudah mulai ditabuh. Persaingan dua klub di negeri Raja Juan Carlos itu sudah mulai menebarkan “aire caliente” di seluruh negeri. Beragam komentar pun sudah mulai menghiasi halaman-halaman depan media cetak di negeri itu.

Seperti dilansir Goal.com, perbedaan waktu pertandingan ini dikomentari penjaga gawang nomor satu Barcelona Victor Valdes. Menurut dia, seharusnya laga itu dimainkan pada hari Sabtu atau Minggu yang merupakan agenda akhir pekan, karena bertanding pada Senin dapat merusak nuansa laga besar itu.

Mezut Ozil, gelandang Los Merengues asal Jerman, mengungkapkan bahwa dirinya tak peduli kapan El Clasico digelar. “Saya belum pernah bermain di hari Senin, namun ini merupakan laga yang indah dan kami siap memenanginya,” katanya seperti dikutip situs resmi El Real.

“Barca dan Madrid sama saja, tak satu pun berada dalam kondisi yang lebih baik. Yang diharapkan adalah hasil akhir, bukan situasi menjelang pertandingan. Kami harus fokus untuk itu dan percaya diri”, tambah Ozil.

Bek Madrid asal Brasil, Kepler Laveran Lima Ferreira alias Pepe, ikut meramaikan aroma persaingan dengan mengatakan bahwa meninggalkan Nou Camp sebagai pemenang akan menjadi hal yang sangat penting.

Tak ketinggalan, maha bintang Real Madrid, Cristiano Ronaldo, ikut berkomentar, “Barcelona tim yang komplit, kami ingin seperti mereka. Saya harap, kami bisa jauh lebih dari mereka,” tuturnya.

“Duel El Clasico merupakan pertandingan hebat dan sangat spesial. Namun bukanlah laga pertama atau terakhir yang akan kami hadapi. Kami berharap menang agar bisa terus memimpin klasemen,” tambahnya.

Mengapa El Clasico begitu sangat istimewa dan penting bagi kedua tim?

El Clasico adalah dendam kesumat. Laga kedua kesebelasan tak sekedar pertarungan sepakbola, tapi juga soal harga diri. El Clasico harus dibaca sebagai “Real Madrid kontra Barcelona”, bukan Real Madrid vs Valencia, atau Barcelona melawan Sevila.

Fragmennya hanya memutar ulang perseteruan panjang dua wilayah: Madrid sebagai ibukota Spanyol dan Barcelona sebagai ibukota provinsi “separatis” Catalonia.

Kisahnya diawali pada tahun 1930-an. Seorang jenderal berhaluan fasis bernama Francisco Franco yang dibantu rezim fasis Italia berhasil merebut kekuasaan dari kaum Republikan yang disokong Uni Soviet. Bersama tentara yang terdiri dari orang-orang desa, mereka berani melawan kaum borjouis yang memiliki senjata lengkap.

Jenderal Franco berkuasa di Spanyol hingga wafatnya pada 20 November 1975. Sebelumnya ia berwasiat agar pemerintahan Spanyol dikembalikan kepada keluarga kerajaan di ibukota Madrid. Namun para veteran perang saudara itu menolak untuk mengembalikan kekuasaan kepada para bangsawan Madrid. Karena takut ditangkap oleh kerajaan, mereka pun lari ke wilayah Catalan.

Jenderal Franco saat itu mencium adanya bibit-bibit pemberontakan yang dilakukan oleh dua suku bangsa yang bermukim di provinsi Catalan, yakni suku Catalan dan Basque. Ia menganggap penduduk Catalan adalah “bughat”, kaum pembangkang terhadap kerajaan. Franco kemudian mengeluarkan larangan pengibaran bendera dan penggunaan bahasa provinsi Catalan.

Baca entri selengkapnya »





Kolam Narkissos Bernama Facebook

2 11 2010

 

Syahdan dalam mitologi Yunani hiduplah seorang pemburu tampan luar biasa bernama Narkissos. Ketampanan telah membuatnya menjadi seorang yang sombong. Dia sering menolak cinta banyak gadis karena merasa mereka tak sepadan dengan dirinya.

Di antara para gadis yang kesengsem pada Narkissos, tersebutlah seorang dewi bernama Ekho. Suatu hari secara diam-diam Ekho mengikuti Narkissos yang sedang berburu di dalam hutan. Di suatu tempat

Narkissos mendengar langkah kaki Ekho dan berteriak, “Siapa itu?”. Ekho menjawab dengan teriakan yang sama, “Siapa itu?”. Begitu seterusnya sampai akhirnya Ekho menampakkan diri dan memeluk sang pujaan hatinya. Narkissos terkaget-kaget dan berusaha melepaskan diri. Dia lalu mengusir Ekho dan meninggalkannya sendirian.

Karena merasa patah hati, Ekho memohon bantuan pada Nemessis, sang dewi pembalas dendam. Nemessis mengabulkan doa Ekho dengan mengutuk Narkissos supaya jatuh cinta kepada dirinya sendiri. Saat Narkissos melihat bayangan dirinya di sebuah kolam, tak henti-hentinya dia mengagumi sosok yang dipantulkan oleh air. Terus menerus seperti itu hingga ajal menjemputnya. Usai kematiannya, Narkissos lalu menjelma menjadi setangkai bunga. Bunga Narsis.

Kisah Narkissos inilah yang melatarbelakangi penggunaan kata “narsisisme” dalam ilmu psikologi modern. Definisi bebas dan singkat dari narsisisme adalah rasa cinta berlebihan terhadap diri sendiri. Manusia yang mengalaminya disebut “narsisis”, tapi orang Indonesia yang amat suka dengan singkatan biasa menyebutnya “narsis” saja. Dalam psikologi modern, mereka digolongkan sebagai pengidap Narcissistic Personality Disorder (NPD).

NPD bukanlah penyakit. Gangguan kejiwaan ini terbentuk dalam diri seseorang oleh lingkungan terdekatnya sejak masih kecil. Orangtua yang terlalu memanjakan anak-anaknya, perfeksionis dan memaksakan nilai-nilai tertentu pada mereka, ditengarai sebagai penyebabnya. Faktor lainnya adalah pelecehan emosional, pujian berlebihan ketika si anak berkelakuan baik dan memaki-maki saat si anak melakukan kesalahan sepele.

Menurut bapak psikologi modern Sigmund Freud, sebetulnya manusia dilahirkan tanpa rasa ego, apalagi narsis. Ego berkembang dalam masa kanak-kanak ketika orangtua atau keluarga terdekatnya mengajarkan nilai-nilai standar yang mereka anut. Mereka berharap anaknya memiliki ideal ego, sebuah citra pribadi yang sempurna.

Para narsis mudah dikenali dari perilakunya. Umumnya mereka bersifat ego-sentris, merasa dirinya paling hebat, paling tampan atau paling cantik. Mereka sering memonopoli pembicaraan, anti kritik dan meyakini bahwa orang lain iri dengan kehebatan mereka.

Mereka tampil perfeksionis di muka umum demi mendapatkan pujian, tapi merasa diri tak berharga saat menyendiri. Itulah sebabnya kenapa mereka sangat menyukai keramaian, baik di ruang-ruang fisik maupun virtual seperti Internet.

Baca entri selengkapnya »





Hodgson, Belajarlah dari Shankly

14 10 2010


Musim ini mungkin merupakan fase terburuk yang dialami Liverpool FC (LFC). Betapa tidak, dari tujuh laga yang sudah dilakoninya The Reds hanya sanggup memetik enam poin. Kalah dari Manchester City dan Manchester United mungkin tak begitu mengejutkan, tapi ditekuk tim promosi Blackpool benar-benar mengherankan. Kemenangan mereka baru sebiji, itu pun diperoleh dari klub debutan West Bromwich Albion dengan gol semata wayang. Sisanya bedu alias seri. Apa mau dikata, The Reds pun terlempar ke posisi 18 di zona degradasi yang selama ini dianggap mustahil buat tim-tim berjulukan The Big Four.

“Inilah awal musim yang sangat buruk, sebuah start yang tak pernah bisa kami bayangkan,” kata sang manajer, Roy Hodgson. “Ini membuat kami sangat tidak senang tapi kami harus menerimanya bagaimana pun pahitnya.”

Alih-alih ingin mendongkrak kinerja Steven Gerrard cs, pelatih gaek yang pernah menangani klub Inter Milan dan Fulham itu justru membuat Si Merah kehilangan ruhnya. Selama tujuh pekan, tak ada match yang betul-betul enak buat ditonton. Tak ada pertunjukan khas Liverpool yang biasa mengeksplorasi kekuatan lini tengah dengan pola 4-2-3-1. Kepergian sang dirijen Xabi Alonso dan si monster Javier Mascherano meninggalkan titik lemah yang belum pulih hingga kini.

Memang, sang manajer lebih menyukai taktik “to kill and end the game”. Dengan formasi 4-4-2, dia ingin selekas mungkin melesakkan gol ke gawang lawan dan memenangkan pertandingan. Namun pola ini sangat berisiko di sektor tengah dan barisan belakang. Hodgson berargumen bahwa metode tersebut berjalan mulus saat dia menangani tim Halmstads, Malmo, Orebro, Xamax, timnas Swiss dan Fulham.

Pertanyaan besarnya adalah mengapa Liverpool yang begitu perkasa di musim-musim lalu, tiba-tiba menjadi tim “salah asuhan”. Beberapa alasan coba dilemparkan, baik oleh pemain, eks-pemain, atau para liverpudlian. Mereka menganggap cara melatih Hodgson, yang mengubah pola permainan, tidak cocok buat tim sekelas Liverpool. Dulu para pemain sudah terbiasa enjoy dengan skema yang dibawa Rafael Benitez. Dengan pola 4-2-3-1 Liverpool sanggup mengatasi tim-tim yang paling ofensif sekalipun.

Ada juga yang menyebutkan kalau hasil buruk ini disebabkan ketidakbecusan Tom Hicks dan George Gillet dalam mengelola klub yang mereka beli 2006 lalu. Jangankan menggelontorkan duit buat menyegarkan materi pemain atau merehab stadion Anfield, si duo yankee malah menunggak utang 351 juta dolar. Rafa pun akhirnya mundur sebagai pelatih setelah dicap “gagal” memulihkan kedigdayaan The Reds. Sebuah cap yang sebetulnya sulit dilekatkan pada Rafa karena keberhasilannya membawa pulang piala Liga Champions pada 2005.

Hengkangnya beberapa pemain pilar juga ditengarai sebagai awal keterpurukan Liverpool musim ini. Sebut saja kepergian Xabi Alonso yang kini hijrah ke Real Madrid atau Javier Mascherano yang “kebelet” ingin bergabung dengan kompatriotnya di Barcelona, Lionel Messi.

Selepas kepergian beberapa pilar tersebut, Hogdson segera mendatangkan beberapa pemain “jaminan mutu”. Maka datanglah Joe Cole, Milan Jovanovic, Christian Poulsen, Raul Meireles, Paul Konchesky, Daniel Wilson, Jonjo Shelvey dan kiper Brad Jones untuk merumput di Anfield. Secara “head-to-head” seharusnya materi pemain The Reds bisa mampu bersaing dengan tiga anggota The Big Four lainnya (Chelsea, Manchester United dan Arsenal).

Baca entri selengkapnya »





Nggak ade lagi delman di Monas

23 12 2009

“Kenape lo Dun, gue liatin dari pagi mulut elo nginyem melulu,” bang Sanip buka omongan sambil meganging perutnya pas keluar dari kamar mandi.

“Bang tau kan si Joni, adek ane nyang narik delman di Monas,” tanya mpok Indun ke suaminye. “Emang ada ape sama si Joni koq bikin mulut elo nginyem kayak gitu,” saut Sanip sembari betulin anduk nyang nutupin badannye.

“Abang pan tau, pemerentah DKI udah ngelarang kusir delman operasi di Monas. Nah si Joni pan udah tahunan kerja jadi kusir delman. Kalo die ama temen-temenya diusir dari sono, ntar di mau cari makan dimane lagi bang,” jawab Indun memelas.

Pemerentah kota DKI Jakarta emang bener sejak 29 Oktober kemaren udah ngelarang operasi delman keliling Monas. Alasannye delman ngenganggu pengunjung dan tai delman bikin kotor jalanan dan ngerusak pemandangan.

“Yah kan udah dikasih tempat nyang baru di Ragunan, masak die kagak mau ke sane juga,” timpal Sanip. “Eh bang pikir dong… masak tiap ari Joni tiap ari mesti berangkat ke Ragunan. Die kan rumahnya di Tenabang. Kalo mesti ke Ragunan ape pendapetan die juga bakalan lebih baek dari di Monas? Kan kagak bang! “Apalagi ane denger di Ragunan udah banyak juga kusir delman yang udah duluan cari nafkah di sono. Kusir nyang dari Monas kan bakalan nggak enak ama nyang udah nongkrong di sono.

“Ah lagak lo kayak nyang mau ngatur-ngatur pemerentah aje. Kan pemerentah udah tau daripada si Joni ame kawan-kawannye,” Bang Sanip kasih komentar.

“Bukan begitu bang, ane cuman nyeselin kenape tuh pemerentah malah ngusirin kusir delman, kan abang tau sendiri, delman kan cocok banget sama budaya betawi. Inget nggak dulu bang, tiap pagi di radio ada acara kusir delman dan tukang gado-gado. Itu bang Madi sama mpok Ani. Coba abang pikirin, delman kan udah jadi bagian budaya kite bang. Budaya Betawi,”. “Nah sekarang malah mau diapusin tuh delman. Entu sama aje ngilangin salah satu budaya Betawi dong. Pegimane tuh gubernur dki, padahal kalo dipikir-pikir die ngakunye orang betawi, tapi ada masalah nyang kayak gitu dia nggak bisa ape-ape,” Indun terus nyerocos kayak petasan janwe.

“Ye kalo gitu mending elo aje sono nyang ngelapor ke gubernur. Bilang ke gubernur bahwa delman udah jadi bagian dari masyarakat betawi gitu. Jangan elo ngomel ama gue,” saut Sanip jengkel.

“Ane juga heran bang sama pemerentah DKI, kalo cuman alasannya tai kuda nyang bikin kotor, pan ada solusinye. Masak sih cuman masalah kayak gitu doang malah bikin kering pendaringan orang,” sergah Indun lagi.

“Daripada ngurusin kusir delman, mending juga tuh tertib-pin tukang ojeg nyang sering nongkrong di depan kantor gubernur sama nyang ngetem di kantor-kantor. Bikin rusak pemandangan kota aje. Coba abang kire-kire lebih tertib nyang mane. Kusir delman sama tukang ojeg yang mangkal di sembarang tempat? tanya Indun ke suaminya yang lagi manggut-manggut.

“Iye sih pendapat elo ade benernye juga Ndun, tapi kemane kite mesti ngelaporin nyang kayak gini. Ape kite langsung aje ke rumah gubernur? tanya Sanip lagi.

“Ah abang, mana mau gubernur terime kite, die pan urusannye segerobak. Mane mungkin mikirin nyang kayak gini,” timpal Indun.

“Ndun.. ndun daripade kite bingung kemane mau ngelapor mending kite ke Taman Menteng nyok… katenye disane ada patungnye Obama,” ajak suaminya sembari mesem-mesem.

“Bang… abang udah gile kali ye… Bukannya mikirin warga kite nyang terus kedesek… eh malah ngurusin orang laen. Emang Obama orang Betawi bang? Emang die udah jadi warge kite…. Ape juga die kenal sama bang Husni Thamrin pahlawan betawi, atawa bang Benyamin? Udah ah.. ane masak dulu, bentar lagi si Udin pulang. (*)