Kendi jadi wagub

14 04 2008

Dimana ada Boy di situ pasti ada Kendi. Kendi dan Boy memang dua orang sahabat dekat. Dalam sekuel Catatan si Boy bagaimana Kendi yang jago taekwondo selalu membela Boy saat berurusan dengan preman-preman.

Meski tajir, sepak terjang Boy sangat santun dan alim. Di dalam BMW versi mutakhirnya, Boy tak lupa menyertakan sajadah dan tasbih. Namun pacaranpun tetap jalan. Maklum Boy yang diceritakan mengenyam pendidikan di luar negeri, sedikit banyak tetap membawa gaya hidup barat.

Peran Kendi yang dimainkan Dede Yusuf dalam film ini sedikit banyak ikut memperkuat alur cerita serial yang digarap sutradara Nasri Cheppy di era 80an. Namun Kendi sekarang bukan seperti Kendi 30 tahun silam. Walaupun wajah dan fisiknya tak banyak berubah, Kendi bukan lagi bodyguard-nya Boy. Kendi saat ini sudah menjadi wakil rakyat.

Dalam Pilkada Jawa Barat yang dilangsungkan Ahad, 13 April 2008, Kendi eh… maaf, Dede Yusuf yang diusulkan fraksi PAN bersama Cagub usungan PKS, Ahmad Heryawan hampir dipastikan akan memenangkan Pilkada di Provinsi Jawa Barat.

Pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf atau HADE awalnya diperhitungkan tidak akan mampu melawan dua pasangan kuat lainnya, namun suara yang diperoleh justru memutarbalikkan prediksi lembaga-lembaga survei yang selama ini selalu menempatkan mereka dalam posisi terbawah.

Nama Dede Yusuf ternyata membawa keberuntungan tersendiri bagi pasangan ini. Dede tidak membantah bahwa keartisannya ikut mendongkrak suara. “Saya pikir tak bisa dipungkiri bahwa popularitas mengambil peranan penting, tetapi juga bukan sesuatu yang haram,” kata Dede dalam perbincangan dengan sebuah stasiun televisi.

Baca entri selengkapnya »

Iklan




Selamat Jalan Pak Harto…

28 01 2008

28 Januari 2008 menjadi hari yang sangat berkabung bagi bangsa Indonesia.

Sejak pagi langit tidak menampakkan kecerahannya. Tertutupi mendung yang mengiringi kepergian sang Jenderal Besar, HM Soeharto. The Smiling General.

Langit seolah-olah ikut berduka atas kepergian seorang putra terbaik yang pernah terlahir dari rahim bangsa ini.

Terlahir sebagai seorang pejuang, negarawan dan bapak bangsa, Pak Harto yang lahir 86 tahun silam telah dipanggil Sang Khalik pada Ahad, 27 Januari 2008 setelah hampir sebulan bergelut melawan penyakit yang menderanya.

Sepatutnya seluruh rakyat Indonesia ikut berkabung atas kepergian Pak Harto. Baik yang sejalan maupun yang berseberangan dengan beliau. Sebagai muslim, ada perintah dari Rasulullah apabila ada saudara sesama muslim yang meninggal dunia, maka wajiblah kita untuk melayat dan mendoakan.

Mungkin sebagai manusia, tentulah Soeharto memiliki kesalahan, namun semua jasa dan kebaikan yang telah beliau sumbangkan kepada ibu pertiwi juga tidak boleh dilupakan.

Suka atau tidak, Pak Harto merupakan negarawan yang sangat disegani dan dihormati. Pak Harto pernah membawa Indonesia berdiri sejajar dengan negara-negara lain. Dan kita mengakui itu.

Tatkala mendengar wafatnya beliau, hati ini serasa sesak. Rasa kehilangan seorang warga negara atas seorang bapak yang murah senyum dan berwibawa. Seorang bapak yang memimpin negeri ini selama 32 tahun dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Lagu ‘Gugur Bunga’ yang selalu diperdengarkan beberapa stasiun televisi, saat beliau wafat membuat saya makin larut dalam kepiluan. Gugur Bunga selalu mengingatkan saya, betapa besarnya pengorbanan para pahlawan saat membela dan mempertahankan kemerdekaan.

Kini, tidak akan ada lagi pahlawan sejati –pahlawan sesungguhnya– yang pernah rela berkorban demi tanah air. Satu demi satu, mereka telah meninggalkan negeri ini. Negeri yang mereka rebut dari penjajah dengan darah dan nyawa. Meninggalkan jejak sejarah yang terus mewarnai perjalanan bangsa ini.

Namun, cerita-cerita para pejuang yang gagah berani mulai redup dan dilupakan generasi penerus negeri ini. Generasi kini –mungkin juga anak saya– tidak kenal lagi siapa itu Diponegoro, jenderal Sudirman, I Gusti Ngurah Rai, atau mungkin Soeharto.

Mereka tidak peduli dari mana kemerdekaan dan kebebasan yang mereka nikmati saat ini. Saya pribadi merasa khawatir, masihkan ada rasa nasionalisme di hati mereka?

Masihkan mereka merasa menjadi orang Indonesia?

Atau jangan-jangan lima tahun kedepan, ‘Gugur Bunga’ tidak akan diperdengarkan lagi, karena memang sudah tidak ada lagi pahlawan yang dilahirkan dari negeri ini. (*)





Menanti aksi Doni Tata

22 01 2008


Sirkuit Losail, Qatar, 9 Maret 2008 menjadi awal pembuktian Doni Tata Pradita, pembalap Indonesia pertama yang akan bertarung di seluruh seri World Grand Prix musim balap 2008 pada kelas 250 cc. “Saya tidak gentar atau pun nervous menghadapi pembalap-pembalap lain. Dan saya akan berusaha menjadi yang terbaik dalam arena MotoGP,” kata Doni Tata. Pada musim balap 2008 itu Doni akan mengikuti 17 seri yang digelar di 15 negara.

Asia diwakili tiga negara. Masing-masing Doni Tata Pradita dengan tim YAMAHA PERTAMINA INDONESIA, Hiroshi Aoyama (RED BULL KTM 250) dan Yuki Takahashi (SCOT RACING TEAM 250) dari Jepang, serta Ratthapark Wilairot dari Thailand (THAI HONDA PTT SAG). Berbendera Yamaha Pertamina Indonesia (YPI), Doni yang anak Yogya itu menggunakan Yamaha TZ250 bernomor 45, dan akan bertarung menghadapi 22 pembalap yang kebanyakan dari Eropa.

Kita, masyarakat Indonesia berharap dan berdoa agar hasil yang diraih Doni Tata Pradita dalam arena balap MotoGP 2008 bisa mengangkat nama Indonesia di mata internasional. Selamat berjuang Doni !!!

(Imung Murtiyoso, Januari 2008, photo by indonesianracing.com)





Ki Nartosabdo, sang troubadour

5 09 2007

Mungkin tidak ada orang Jawa yang tidak mengenal sosok Ki Nartosabdo, pun masyarakat Jawa yang kini menetap di berbagai belahan dunia pasti mengenal seniman besar yang ikut mewarnai sejarah budaya Jawa tersebut.

Sebagai orang yang terlahir di tengah hiruk-pikuknya the Rolling Stones, saya memang belum mengetahui beliau secara utuh dan mendalam.

Saat usia yang hampir mendekati 40 tahun dan isi otak sudah 100% contaminated bermacam budaya, saya justru semakin menikmati gendhing-gendhing kreasi dari seniman asal Desa Krangkungan, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten ini.

‘Persinggungan’ dengan Ki Nartosabdo dimulai saat bapak saya hampir setiap hari selalu memperdengarkan gendhing-gendhing beliau, baik melalui radio atau kaset, sehingga mau tidak mau saya yang waktu itu masih duduk di bangku SD terpaksa harus menikmati ‘genre Ki Nartosabdan’ (gendhing-gendhing yang diciptakan oleh Ki Nartosabdo).

Boleh jadi saya terkena falsafah Jawa, witing tresno jalaran soko kulino. Gimana nggak tresno, wong tiap hari dicekoki jenis musik yang kini diakui dunia melalui World Heritage-UNESCO. Tidak hanya gendhing-gendhingnya, bapak saya juga seorang penikmat gaya mendalang yang dipertontonkan oleh Ki Nartosabdo, entah cara sabetannya atau cengkok suaranya.

Hampir tiap minggu saya ‘disuguhi’ berbagai lakon wayang kulit. Karena itu, saya pun hafal nama tokoh dan karakter dari dunia pewayangan tersebut. Apalagi jika sudah masuk sekuel goro-goro. Sekuel ini merupakan babak dalam pagelaran wayang yang ditandai dengan kemunculan para punakawan. Atau kemunculan ibu dan anak, limbuk – cangik. Disini penonton disuguhi humor yang ger-ger-an. 

Bapak saya pernah bercerita, Ki Nartosabdo adalah seorang seniman yang belum ada tandingannya. Ia bukan saja menghibur, tetapi juga memeberikan nasihat-nasihat melalui lakon-lakon wayang kulit yang dibawakannya.

Lagu-lagu Ki Nartosabdo banyak memuat nasihat, filosofi dan pelajaran hidup. Tak heran bila Bung Karno menjadikan Ki Nartosabdo sebagai dalang kesayangannya. Meski menganut gagrak Surakarta, Ki Nartosabdo tidak melulu fanatik dengan gaya tersebut.

Dalam setiap pementasannya, Ki Nartosabdo tidak jarang membawakan gagrak Yogyakarta atau Banyumasan. Saat memainkan lakon Kresna Duta di RRI Jakarta, 28 April 1958, Ki Narto mengkombinasikan dua gaya yang “berseteru” itu.

Disamping itu 319 gendhing yang sudah ia ciptakan, sehingga sampai kini karyanya masih mendapat tempat di hati para pencintanya. Secara kualitaspun belum ada yang mampu memyamainya. Karena memang karya-karyanya enak didengar dan easy listening.

 Sembilan kendang

Contoh dalam lagu Swara Suling. Ki Nartosabdo memainkan lagu itu dengan sembilan kendang sekaligus dan tiga tambur, sehingga suara kendang mendominasi lagu tersebut.

Cara memukul kendangpun menggunakan ibu jari. Sampai-sampai Swara Suling yang dimainkan oleh dalang siapapun dalam pementasan wayang kulit, tembang itu “sepersis” mungkin dimainkan seperti aslinya.

Gendhing-gendhing ciptaan Ki Nartosabdo lainnya yang cukup populer seperti, Praon atau perahu layar yang banyak dinyanyikan artis dangdut, Lumbung Desa, Lesung Jumenglung, Saputangan, Ojo Lamis, Ojo Dipleroki dan masih banyak lagi.

Ki Nartosabdo lahir pada 25 Agustus 1925 dengan nama kecil Sunarto. Dia bungsu dari delapan bersaudara pasangan Partotanayo, seorang pengrawit, dan Madiah, seorang mranggi atau pembuat rangka keris. Sunarto kecil yang berusia 11 tahun telah mampu memainkan ricikan rebab, kendang, dan gender. Pada 1940 dia bergabung dengan grup ketoprak Budi Langen Wanodya. Dia bertahan dua tahun dalam kelompok itu.

Pada 1945 dia menjadi pemain kendang pada grup Sri Wandawa sebelum bergabung dengan Ngesti Pandawa pimpinan Sastrasabda. Lelaki itulah yang memberi nama Nartosabdo pada 1950. Tahun itu pula dia menikah dengan Tumini dan memiliki seorang anak bernama Jarot Sabdono.


Pendidikan formal Sunarto hanya sampai kelas IV Standar School Muhammadiyah di Wedi. Keterampilan sebagai dalang wayang kulit diperoleh secara otodidak dan belajar pada beberapa dalang ternama seperti Ki Gitocarito dari Sukoharjo yang bermukim di Semarang.

Selain itu dia juga belajar mendalang pada Ki Pujosumarto dan Ki Wignyo Sutarno. Dari guru yang disebut terakhir itu, Ki Nartosabdo belajar banyak mengenai dramatika pewayangan.

Pada era 1950 sampai 1970, jadat karawitan Jawa memiliki tiga komposer yang hebat dan saling mengisi, yakni Tjakrawarsita, RL Martopangrawit dan Ki Nartosabdo. Sebenarnya ada satu lagi komposer yang segenerasi namun kurang begitu terkenal, RC Hardjo Subroto.

Kalau dahulu saya sempat nggak mudeng dengan lagu-lagu beliau, sekarang saya berusaha menyempatkan waktu –walau seminggu sekali– untuk mendengarkannya. Meski menggunakan bahasa Jawa, saya lumayan mengerti walau bingung jika menemukan bahasa tinggi khas priyayi, krama inggil.

Genjer-genjer

Salah satu lagu ciptaan Ki Nartosabdo yang menimbulkan kontroversi adalah Genjer-genjer. Di zaman Orde Baru lagu ini menjadi sangat “haram” dinyanyikan. Lagu yang selalu dihubungkan dengan pergerakan partai komunis Indonesia yang sampai kini pun belum ada kejelasan dimana dari syair lagu yang berlawanan dengan rezim saat itu.

Menurut Ki Manteb Sudarsono seperti dikutip Suara Merdeka, lagu ciptaan almarhum dalang Ki Nartosabdo itu sama sekali tak memuat syair atau kata-kata yang mengeritik pemerintah, ataupun memuat ajaran komunis di dalamnya.

“Silakan diperiksa lirik lagunya, apakah ada kata-kata yang mengkritik pemerintah, ataupun ada ajaran komunis yang sengaja diselipkan di dalamnya,” kata Ki Manteb Soedarsono, yang pernah belajar kepada Ki Nartosabdo di Solo.

Ia menjelaskan, lirik lagu Genjer-genjer sebenarnya menggambarkan kerukunan sepasang suami istri yang sedang memetik daun genjer-genjer untuk dijadikan hidangan makan di rumah.

“Jika lagu ini lantas dikaitkan dengan peristiwa G-30-S PKI, itu salah orang itu sendiri. Tetapi yang jelas, lirik lagu tersebut hanya menggambarkan kerukunan hidup sepasang suami isteri,” ujarnya. Terlepas dari kontroversi lagu tersebut, Ki Nartosabdo telah meninggalkan banyak pembaruan dalam seni perkeliran, pedalangan dan karawitan Jawa. Rekan-rekannya pun mengakui bahwa beliau merupakan dalang terbaik yang pernah dilahirkan.

Beberapa saat sebelum Ki Nartosabdo wafat, beliau menciptakan sebuah gendhing yang ia beri judul Lelayu (kematian). Ki Nartosabdo wafat pada tanggal 7 Oktober 1985 dalam usia 60 tahun. Lelayu pulalah yang mengiringi jenazah sang maestro ke tempat peristirahatannya yang terakhir di Semarang.

Walau jasadnya sudah terkubur tanah, namun karya-karya Ki Nartosabdo tak lekang dimakan usia. Semua bisa menikmati, bukan saja masyarakat Jawa tapi seluruh masyarakat Indonesia. Karena Ki Nartosabdo bukan hanya seorang dalang, ia seorang penggubah, pencipta lagu dan gendhing-gendhing Jawa. Seorang penghibur yang lengkap dan mumpuni. Seorang troubadour. (*)





Tukul, laptop dan anggota DPR

23 03 2007

Suka atau tidak suka, reality show ‘Empat Mata’ yang dipandu komedian Tukul Arwana membuat anggota DPR di Senayan ikut-ikutan terjangkiti virus ‘Tukulisme’.

Berjargon, ‘kembali ke laptop’ Tukul telah menginspirasi anggota dewan yang terhormat untuk ‘ingin tahu lebih dalam’ tentang laptop kalau tidak bisa dikatakan latah.

Mereka berpikir, Tukul yang ‘wong ndeso, katro dan kutu kupret’ saja kerja dengan laptop, masak kita yang dewan terhormat kalah sama Tukul. “Buat membantu dan mempercepat kerja kita,” kata seorang anggota dewan saat ditanya Tukul perihal fungsi laptop pada tayangan ‘Empat Mata’ Rabu (21/3).

Padahal fasilitas komputer sudah tersedia di ruang kerja mereka masing-masing. Jadi fungsi laptop buat apa? Apakah dengan laptop kinerja mereka akan membaik? Padahal banyak kasus yang lebih penting dari sekedar laptop belum terselesaikan. Beras mahal, contohnya.

Roy Suryo seorang pakar telematika mengatakan, pembelian laptop bagi 550 anggota DPR merupakan tindakan yang tidak ada manfaatnya dalam mendukung kinerja sebagai wakil rakyat. “Staf DPR ini sudah memiliki komputer di ruangannya. Lantas buat apa beli laptop. Ini kan jadi mubadzir,” katanya seperti dikutip ANTARA News.

Kalaupun pengadaan laptop ini disetujui, yang jadi pertanyaan apakah anggota dewan –maaf– semuanya bisa mengoperasikan alat canggih itu. Jangan-jangan mereka menuntut pula supaya dikursuskan komputer.

Selain itu, siapa sih… yang dapat menjamin tidak adanya praktik korupsi atau mark-up. Jika satu unit laptop seharga Rp21 juta (harga yang diajukan) dikali jumlah anggota dewa sebanyak 550 orang. Maka uang yang akan dikeluarkan negara –melalui APBN– adalah sebesar Rp11,5 miliar! Andai saja rupiah sebanyak ini digunakan untuk merehabilitasi sekolah yang hancur karena gempa atau untuk mensubsidi harga benih padi.

Tapi, inilah cerminan wakil rakyat dari negeri yang hampir sekarat ini, wakil rakyat yang selalu mendahulukan kepentingan pribadi, bukan rakyat yang telah memilihnya. Cerminan komunitas orang-orang pilihan yang untuk membeli sebuah komputer jinjing saja harus menggunakan uang rakyat.

Kita tunggu saja apakah nanti akan kita lihat adakah anggota dewan menjinjing laptop saat mengunjungi korban bencana alam, saat meninjau pasar tradisional atau ketika studi banding di luar negeri.

Mengunjungi korban di daerah terpecil dengan menjinjing laptop, atau saat menanyakan harga sembako di pasar tradisional, bukankah malah merepotkan. Bisa-bisa malah jadi bahan tertawaan. “Kirain Tukul yang datang”? kata seorang pedagang beras –mungkin– di pasar Kramatjati tatkala anggota dewan datang meninjau.

Mereka pun toh… akhirnya dapat menyimpulkan bahwa tidak ada beda antara para anggota dewan dengan Tukul Arwana, Sama-sama lucunya. Yang pertama collective comedians yang lucunya ala murid taman kanak-kanak, satunya lagi komedian sungguhan yang menghidupi keluarga dari ‘kristalisasi keringat’.

Berbekal ‘laptop pinjaman’ dari tim kreatif Empat Mata, setiap malam Tukul terus menghibur, membuat masyarakat melupakan sesaat kesulitan hidup. Ia telah menjadi ikon baru di tengah masyarakat yang telah penat menyaksikan talk show yang isinya cuma basa-basi ataupun sinetron-sinetron bertemakan hedonisme dan klenikisme.

Untuk produser acara ini tolong agar para anggota dewa diundang di acara Empat Mata, mudah-mudahan mereka bisa mengikuti langkah seorang ‘smart host’ seperti Tukul, yang dengan laptop bisa menarik applaus dan simpati masyarakat luas. (*)





Dialog imajiner dengan Gajah Mada

13 03 2007

Dialog imajiner  ini merupakan perbincangan imajinasi  antara penulis, Imung Murtiyoso (IM) dengan Panglima Kerajaan Majapahit, Mahapatih Gajah Mada (GM).

Berikut isi dialog tersebut:

IM : Nyuwun sewu patih, mungkin saya mengganggu istirahat patih.

GM : Oh ndak, ada perlu apa sampeyan, mungkin ada yang bisa saya bantu.

IM : Anu patih, saya mau tanya kenapa di bumi nusantara ini bencana kok tidak pernah habis-habisnya, padahal seperti patih ketahui, penduduk nusantara ini semuanya beragama, ramah-tamah, murah senyum dan banyak lagi kebaikan lainnya?

GM : Betul, semua yang sampeyan sebutkan adalah benar adanya. Tapi kalau kebaikan disandingkan dengan kemaksiatan jadinya ndak ada manfaat, malah merusak. Misal, pergi ke tempat ibadah rajin, korupsi juga jalan terus, bersedekah rajin, tapi mencuri juga nggak telat. Akhirnya kebaikan bercampur dengan kejahatan. Lha ini kan kontradiktif.

IM : Benar patih, saya juga sependapat, mental para birokrat di nusantara memang sudah bobrok.

GM : Ndak itu saja, coba sampeyan lihat, beras subsidi yang seharusnya diberikan buat masyarakat miskin, eh … ndak tahunya ditimbun, disembunyikan oleh cukong-cukong agar di kemudian hari bisa dijual lebih mahal lagi. Wah apa ini ndak memancing amarah Tuhan.

IM : Betul sekali patih, sebagai orang awam saya sendiri bingung dengan kelakuan mereka itu.

GM : Ndak.. ndak usah bingung, biar yang bingung para pejabatnya saja. Mereka kan bingung mau melakukan apa. Bingung mau bohong apa lagi. Bingung cari-cari alasan. Bingung karena disumpah-serapahi oleh jutaan orang di Nusantara ini.

IM : Tapi patih, nusantara dari dulu kan sudah ‘gemah ripah loh jinawi’, tapi kenapa rakyatnya susah dapat beras, minyak tanah. Kok seperti ‘tikus mati di lumbung padi’. Apa ada yang salah patih?

GM : Memang dari dulu sudah salah, sekarang coba sampeyan perhatikan, kenapa lahan sawah yang seharusnya buat menanam padi, sudah berubah jadi perumahan, mal, pom bensin atau rumah makan. Para pejabat di nusantara banyak yang ABS, ‘asal bapak senang’. Mereka berandai-andai bahwa tahun ini akan berswasembada beras. Kita akan panen raya. Nyatanya malah impor beras. Betul ndak? Jadi sampeyan ndak usahlah bingung.

IM : Iya patih, semoga saya tidak bingung. Bolehkah saya mengajukan satu pertanyaan lagi patih?

GM : Boleh, tapi jangan panjang-panjang, saya kuatir nanti sampeyan bingung lagi.

IM : Begini patih, nusantara kok nggak sejaya dan seberani seperti zaman patih dahulu, dulu patih bisa menguasai dan menyatukan seluruh nusantara. Konon Kamboja dan Siam yang letaknya jauh sekalipun sempat patih kuasai. Tapi negeri-negeri kecil seperti Tamasek dan Melaka sekarang sudah berani mengusik harga diri nusantara. Mereka berani masuk ke wilayah nusantara tanpa izin dan ujung-ujungnya mengklaim sebagai wilayah mereka. Ada yang ngambil pasir sesuka hatinya buat memperluas negaranya. Ini bagaimana patih?

GM : Wah kalau ini agak sulit menjawabnya, kalau dulu sewaktu saya masih menjadi panglima kerajaan Majapahit, setiap negeri yang ingin memberontak atau menyerang Majapahit saya taklukan dulu. Ya.. kalau menurut bekas perdana menteri Aussie, John Howard namanya ‘pre-emptive strike’. Biasalah gaya preman, pukul dulu… urusan belakangan.

IM : Tapi bukankah itu melanggar kedaulatan sebuah negeri?

GM : Kalau ndak mau melanggar wilayah negeri lain, saya usulkan kepada pemerintahan sampeyen, agar menembak setiap pesawat atau kapal yang coba-coba masuk ke wilayah nusantara. Cuma masalahnya apakah panglima nusantara ‘berani dan tega’ melakukan itu.

IM : Betul patih, kenapa nusantara yang besar kok yang mau-maunya dilecehkan sama negeri-negeri itu. Padahal seperti usul patih, dewan rakyat udah setuju supaya pesawat atau kapal yang masuk agar ditembak saja. Tapi usul ini ditolak menteri pertahanan dan panglima. Saya jadi bingung.

GM : Tuh kan sampeyan bingung lagi. (*)